oleh

Covid-19 Dapat Bermutasi, Ini Kata Pakar

Banyak pertanyaan muncul terkait Covid-19 dapat bermutasi. Merespons hal itu, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Iris Rengganis mengatakan, ketika virus masuk ke dalam tubuh manusia dan merusak sel-sel dalam tubuh, maka sistem kekebalan tubuh manusia menghambat replikasinya.

Oleh karena itu, agar virus dapat bertahan hidup, maka virus bermutasi untuk mengelabui sistem kekebalan tubuh inang.

“Mutasi dapat menyebabkan virus makin kuat dan lebih mudah berkembang biak,” kata Iris pada acara webinar bertajuk Strategi Kebijakan Pelayanan Kesehatan dalam Masa Pandemi Covid-19, Sabtu (24/7/2021).

Iris menyebutkan, gejala Covid-19 tiap varian berbeda-beda. Gejala varian Delta atau B16172, Alpha atau B117, dan Beta atau B1351 berbeda satu dengan yang lainnya.

Baca Juga  Shelly-Ann Fraser-Pryce, Menjadi Wanita Kedua Berlari Di Bawah Rekor Dunia 100 Meter Putri

Pertama, varian Alpha berasal dari Inggris dengan gejala umum lebih parah dari varian awal atau varian Wuhan. Kedua, varian Beta, berbeda dari varian Wuhan.

Ketiga, varian Delta, gejala umum relatif lebih parah dari awal. Selain ketiga varian tersebut, Iris menyebutkan, ada varian Gama atau P1 dari Brasil yang juga tingkatnya sama seperti Delta.

Sangat Mudah
Selanjutnya, Ketua PP Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia (Peralmuni) ini menyebutkan virus Covid-19 sangat mudah mengalami mutasi atau perubahan genetik.

Baca Juga  Sloane Stephens Menghentikan Unggulan Ke-13 Dari Republik Ceko Karolina Muchova

Menurut Iris, seiring berjalannya waktu mutasi pada virus bersifat normal untuk membentuk varian baru. Dalam hal ini, makin banyak infeksi pada suatu populasi kemungkinan mutasi virus makin meningkat.

“Jadi perubahan genetik pada virus dapat menyebabkan virus ini memiliki efek yang berbeda terhadap tubuh manusia. Jadi kita jangan heran kalau SARS-CoV-2 jenisnya RNA yang sifatnya akan bermutasi terus,” kata Iris

Ia menyebutkan, mutasi varian Delta dari India sudah masuk ke Indonesia dan WHO menyebutnya sebagai variant of concern (VoC). Hal ini merujuk apabila varian baru tersebut dapat meningkatkan risiko terhadap manusia dan menunjukan beberapa ciri seperti pertama, meningkatan transmisi lebih mudah menular.

Baca Juga  Isran Noor Meminta Kepala Daerah Di Wilayah Setempat Saling Bersinergi Dalam Penanganan Serta Penanggulangan COVID-19

Kedua, menjadi lebih virulens dan menyebabkan penyakit lebih parah. Ketiga, secara signifikan mengurangi netralisasi antibodi, dan keempat virus dapat mengurangi efektivitas pengobatan, vaksin atau diagnosis. “Jadi varian Delta dimasukan dalam VoC oleh WHO,” ucapnya.

Iris juga menyebutkan, selain VoC, ada variant of interest (VoI) yang harus menjadi perhatian namun tidak berbahaya seperti VoC. (*/cr2)

Sumber: beritasatu.com

News Feed