oleh

Bupati Nagekeo Harap Agar Pelayanan di RSUD Aeramo Berjalan Maksimal

Bupati Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) Johanes Don Bosco Do, melakukan peletakan batu pertama pembangunan pagar Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aeramo di Mbay, Minggu (12/9/2021). Pembangunan pagar tersebut sangat dibutuhkan untuk mengatasi gangguan ternak yang berkeliaran keluar masuk halaman rumah sakit sehingga membuat pelayanan di rumah sakit itu terganggu.

Pada kesempatan itu, Bupati Don Bosco menyatakan bahwa sejak 16 Desember 2020, RSUD Aeramo sudah ditingkatkan statusnya menjadi rumah sakit tipe C, sehingga pelayanan kesehatan kepada masyarakat diharapkan semakin berjalan maksimal.

“Sebagai kelanjutannya, saat ini sedang berlangsung proses pembaruan struktur organisasi dan percepatan status Badan Layanan Umum Daerah,“ kata Don Bosco yang sebelum menjabat bupati juga berprofesi sebagai dokter.

Baca Juga  DKI Jakarta Belum Aman Apabila Daerah Bodetabek Belum Capai Herd Immunity

Ia juga mengharapkan dengan dibangunnya pagar rumah sakit, maka akan memberikan perlindungan yang lebih baik kepada para petugas rumah sakit agar terhindar dari berbagai gangguan yang bisa menghalangi mereka dalam menjalankan tugasnya.

Pembangunan pagar rumah sakit menelan anggaran sekitar Rp 3,4 miliar. Rumah sakit itu sendiri dibangun pada areal seluas kurang lebih 9,5 hektare.

Menurut Direktur RSUD Aeramo drg Emirentiana Wahyuningsih, para petugas yang bekerja di rumah sakit itu sering merasa tidak nyaman karena ternak sapi maupun kambing yang sering memasuki halaman rumah sakit sehingga mengotori lingkungan rumah sakit.

“Sebenarnya kita sudah berupaya membangun pagar kawat berduri dengan tiang kayu seadanya sekadar untuk mengamankan area inti rumah sakit. Namun tetap saja tidak efektif dan tidak bertahan karena selalu ada orang tak bertanggung jawab yang iseng menggunting pagar kawat sehingga ternak-ternak yang ada bisa kembali leluasa memasuki halaman rumah sakit,” katanya di sela-sela peletakan batu pertama pembangunan pagar rumah sakit tersebut.

Baca Juga  Benih Lobster Dilepasliarkan Dari Hasil Sitaan

Emirentiana Wahyuningsih yang juga menjadi pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Nagekeo ini juga menyatakan bahwa pagar permanen itu sangat dibutuhkan agar segala aktivitas operasional pelayanan baik teknis maupun nonteknis dapat berjalan lebih baik demi kenyamanan pasien dan petugas rumah sakit.

Sementara itu, Kepala Bidang Anggaran Badan Keuangan Daerah (BKD) Nagekeo Yuliana Tolo mengatakan, anggaran pembangunan pagar rumah sakit bersumber dari Dana Insentif Daerah (DID) tambahan, dan hal ini sebagai wujud kesungguhan pemerintah pusat dalam mendukung Pemerintah Kabupaten Nagekeo membangun daerah ini di tengah masa pandemi Covid-19.

Baca Juga  Sedang Terlibat dalam Cinta Segitiga, Coba Deh Renungkan Hal-hal Ini

Menurut Juliana, pemerintah pusat menilai daerah ini cukup baik dalam penanganan pandemi Covid-19, sehingga Nagekeo diberi alokasi sekitar Rp 23 miliar untuk kebutuhan kesehatan, jaring pengaman sosial, dan pemulihan ekonomi.

“Dari sumber dana yang sama, manajemen rumah sakit saat ini juga sedang membenahi instalasi listrik yang sebelumnya dilaporkan telah memicu berbagai gangguan serius dalam pelayanan rumah sakit,” katanya.

Saat peletakan batu pertama, turut hadir Tokoh Adat Nataia Patrisius Seo, Kepala Desa Aeramo Dominggus Biu Dore, serta pihak-pihak terkait lainnya. (*/cr2)

Sumber: beritasatu.com

News Feed